
BENGKULU — Youth Economic bertajuk “Dari Sumpah Pemuda hingga Pemberdayaan Ekonomi Anak Muda” diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi untuk membahas peran strategis generasi muda dalam membangun kemandirian ekonomi, meningkatkan literasi keuangan, serta mendorong pemberdayaan ekonomi yang produktif dan berkelanjutan, yang menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi ekonomi di Bengkulu.
Semangat Sumpah Pemuda tidak hanya menjadi tonggak sejarah perjuangan bangsa Indonesia, tetapi juga menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk mengambil peran strategis dalam pembangunan ekonomi. Dalam konteks kekinian, semangat persatuan dan perjuangan pemuda perlu diwujudkan melalui kreativitas, inovasi, kewirausahaan, serta pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan.

Kegiatan ini dibuka dengan opening remark oleh Prof. Suwarjin, M.A., Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu. Kehadiran pimpinan akademik dalam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong ruang diskusi yang konstruktif mengenai peran generasi muda dalam menghadapi tantangan ekonomi di era modern.

Diskusi menghadirkan tiga narasumber, yakni Suharyono, M.E., Plt. Wakil Rektor II IAINU Bengkulu; Khozin Zaki, dosen UINFAS sekaligus pengelola UPKP; serta Desi Isnaini, Ketua Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI). Para narasumber dihadirkan untuk memperkaya perspektif mengenai hubungan antara semangat kepemudaan, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, dan penguatan ekonomi masyarakat.

Momentum peringatan Sumpah Pemuda menjadi pengingat bahwa tantangan generasi muda saat ini tidak lagi terbatas pada perjuangan mempertahankan persatuan, tetapi juga mencakup upaya membangun kemandirian ekonomi di tengah perubahan teknologi, persaingan dunia kerja, dan dinamika kewirausahaan. Anak muda dituntut untuk mampu beradaptasi, mengembangkan kompetensi, memanfaatkan teknologi digital, serta menciptakan peluang usaha yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Pemberdayaan ekonomi anak muda juga memerlukan dukungan dari berbagai pihak, mulai dari perguruan tinggi, pemerintah, lembaga keuangan, komunitas usaha, hingga organisasi profesi. Kolaborasi tersebut penting untuk memperluas akses terhadap pendidikan kewirausahaan, pendampingan usaha, pembiayaan, serta jaringan pemasaran yang dapat membantu generasi muda mengembangkan potensi ekonominya.

Dalam perspektif ekonomi Islam, pemberdayaan generasi muda juga dapat diarahkan pada pengembangan kegiatan ekonomi yang berlandaskan prinsip keadilan, kebermanfaatan, tanggung jawab, dan keberlanjutan. Dengan demikian, keberhasilan ekonomi tidak hanya diukur dari keuntungan finansial, tetapi juga dari kontribusinya terhadap kesejahteraan masyarakat dan terbukanya kesempatan ekonomi yang lebih luas.
Melalui kegiatan Berita Youth Economic ini, pembahasan mengenai Sumpah Pemuda diharapkan dapat berkembang menjadi refleksi sekaligus dorongan untuk menghadirkan langkah nyata dalam pemberdayaan ekonomi generasi muda. Semangat persatuan yang diwariskan para pemuda pada 1928 perlu diteruskan melalui kolaborasi, inovasi, dan kontribusi produktif dalam menjawab tantangan pembangunan ekonomi masa kini.
Dari semangat Sumpah Pemuda menuju kemandirian ekonomi, anak muda diharapkan tidak hanya menjadi penonton perubahan, tetapi juga menjadi penggerak dan pencipta peluang bagi masa depan bangsa.
